“Jangan memandang kecilnya suatu kemaksiatan, tapi lihatlah kepada kebesaran zat yang engkau lakukan kemaksiatan terhadap-Nya.”

Character Building

Eileen Rachman, EXPERD, Soft Skills Training Provider

Beberapa waktu belakangan ini “karakter” disebut-sebut sebagai pertimbangan dalam menyeleksi eksekutif. “Dia punya karakter,” demikian kata orang, dan tentunya konotasi ungkapan itu terarah positif.

Wajar bila kita juga kemudian berespons dalam hati: “Apakah saya punya karakter?” Atau, “Saya ingin ber- ‘karakter’, tapi tidak tahu cara mengembangkannya.”

Kita sudah punya karakter sejak lahir, karena karakter adalah kumpulan kualitas dan reaksi dalam diri individu. Permasalahannya adalah apakah ada ciri khas yang membuat karakter kita menonjol dan lebih berarti ketimbang orang lain? Bila ada, maka orang lain bisa dengan mudah menggambarkan karakter kita.

Orang yang berkarakter tidak sama dengan orang baik. Salah seorang dosen saya, misalnya, selalu ramah dan baik hati. Namun, cara berjalan-nya seperti layang-layang putus. Bila berjabat tangan terasa jabatan yang tidak menggenggam, tidak “berarti”. Setelah mengenal lebih lanjut, ternyata ibu dosen ini dalam pekerjaannya tidak tegas, tidak membuat perubahan, konformis tanpa sikap kritis sehingga di bawah pimpinan-nya, bagiannya sama sekali tidak berkembang.

Orang yang dikatakan berkarakter biasanya dikenali sebagai orang yang dikagumi dan direspek, bisa membedakan hal baik dan buruk dengan tegas, serta menjadikan lingkungannya lebih baik. Di Amerika, diperkenalkan sejak dini 6 pilar karakter, yaitu: bisa dipercaya, respek, tanggungjawab, bersikap fair, peduli, dan menjadi warga negara yang baik. Pengenalan 6 pilar inidiikuti dengan seperangkat do’s , don’ts , sehingga mudah digunakan bagi mereka yang ingin jadi orang berkarakter. Apakah cukup sampai di sini? Tentu tidak. Membangun karakter membutuhkan “exercise”, tempaan, cobaan, tantangan tiada henti, yang memberi kesempatan bagi individu untuk memperkeras kepribadiannya.

“I will be what I will to be”

“Choose your attitude” Tantangan pertama adalah mendesain gambaran pribadi Anda sendiri. Apakah ingin menjadi orang yang “low profile”, rendah hati, halus? Ataukah agresif, senang tantangan dengan ‘exposure” tinggi. Kita perlu memiliki visi hidup yang jernih sehingga bisa mengarahkan pembentukan karakter.

Karakter berasal dari “habit”

Bila ingin berkarakter menonjol, kita perlu mempermudah orang lain untuk mengenali kekhasan kita. Kesamaan reaksi, gaya bicara dalam menghadapi situasi apapun, dari waktu kewaktu, perlu konsisten. Penting juga untuk menjaga konsistensi antara apa yang kita katakan dan yang kita lakukan. Jalan pikiran, perasaan dan reaksi, perlu relevan satu sama lain. Seperti halnya kita tidak bisa tertawa terbahak-bahak pada saat sedih.

Secara otomatis, konsistensi akan membentuk habit, yaitu kebiasaan bereaksi pada tiap momen dalam hidup kita. Kenalan dekat saya mempunyai kebiasaan marah dalam setiap situasi yang dihadapinya. Bila anak jatuh, isteri sakit, terjerumus ke lubang, atau berhadapan dengan orang yang sulit, reaksinya satu, yaitu marah. Tidak pelak lagi, ia kemudian dikenal berkarakter pemarah. Habit yang terbentuk inilah yang menghasilkan “kekuatan pribadi” dan memancarkan aura yang lebih kuat dibanding habit yang tidak terbentuk karena tidak konsistennya reaksi individu.

Kompetensi membentuk karakter

Sering terjadi reaksi individu “pekewuh”, ragu, tidak cermat, karena ia tidak bisa, atau tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi situasi yang sulit. Untuk itulah kita perlu berambisi untuk senantiasa memperkuat kompetensi kerja kita.

Kompetensi perlu dikembangkan tidak sebatas pada keterampilan dan pengetahuan saja, tapi juga sikap profesional dan prinsip. Galilah prinsip profesional dari orang-orang yang lebih berpengalaman, pertemuan profesi, buku, jurnal, dan pelatihan.

Seorang engineer pengeboran tidak akan begitu saja menyetujui instruksi atasan bila menghadapi situasi berbahaya, bila ia berpegang pada pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman profesionalnya. Walaupun ditekan oleh atasan, kompetensi, harga diri, dan keputusan moralnya akan mendukung kepercayaan dirinya untuk mengambil sikap. Akhirnya pembentukan karakter dan kompetensi memang seperti lingkaran malaikat, semakin kompeten semakin mudah karakter ditonjolkan.

Tingkatkan kepekaan

Dalam pertemuan kelompok, bila individu ditanya: “Apa yang bisa Anda kontribusikan ke tim untuk memperbaiki kinerja?” Ia akan menggagap bila ia tidak peka tentang keberadaanya dalam situasi tersebut. “Positioning” diri sendiri dalam situasi sosial memerlukan kejelasan dan kepekaan setiap saat, sehingga reaksi yang dibentuk selalu bisa disadari dan dikontrol. Hanya dengan kontrol kuat terhadap reaksi kita, maka kita bisa membentuk reaksi yang relevan.

CHARACTER BUILDING COMPETENCE

Can Do’ answers
Hands on execution
Accountable
Result Driven
Assertive Communication
Change Leader & Agent
The Customer’s Business Partner
Empowering Coach
Relationship Builder

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: