“Jangan memandang kecilnya suatu kemaksiatan, tapi lihatlah kepada kebesaran zat yang engkau lakukan kemaksiatan terhadap-Nya.”

Mo rileks saja kok SUSAH

diambil dari tabloid GHS

ada teman dijogja sana bilang, orang-orang yang hidup dijakarta adalah kaum “terhukum”.  Untuk menuju tempat kerja saja butuh 1-2 jam, pulang pergi 2-4 jam kadang lebih.

Di perjalanan disiksa oleh kemacetan, kesemrawutan, dan ketidaknyamanan lainnya. Persaingan di tempat kerja luar biasa kerasnya, waktu hampir tak ada buat diri sendiri, keluarga, apalagi hubungan sosial. Bicaranya target target dan target. Sampai di rumah sudah malam, seringkali tengah malam, dalam keadaan mengantuk dan loyo.

Lantas apa yang didapatkan? Ya target tentu saja. Kalau orang mengejar target, yang didapat adalah target. Kalau orang mengejar uang, ya uanglah yang diperoleh. Kalau ada yang mengejar kecantikan, tentu saja ia akan meraih kecantikan. Pendek kata, apa yang kita cari dan kejar, itulah yang kita dapatkan.

So what? Kalau sudah cantik, gagah, berduit, target tercapai, jabatan ada di tangan, citra sukses bisa diraih, terus mau apa? Mempercantik diri lagi, mencarii uang lebih banyak lagi, mengejar target lebih besar lagi, mengejar kedudukan lebih tinggi lagi? “Njuk ngopo? Terus mau nga pain?” tanya teman yang hidup tenteram di Kota Gudeg itu.

Teman ini bukan penganggur atau orang yang sedang berusaha menutupi kegagalannya. Dia pengusaha, sehari-hari naik mobil super mewah jenis “haute couture” kalau dalam fashion, tinggal di rumah indah, dan rutin keliling dunia.  Pendek kata, segala citra sukses yang dikejar orang melekat pada dirinya.

Yang mau dia katakan adalah, mengapa kita suka atau tidak paham telah diperbudak oleh pekerjaan, perusahaan, kedudukan, dan hal-hal yang kita anggap sangat penting itu? Ia bisa membuktikan bahwa perusahaan nya tetap bertumbuh dan berkembang tanpa harus membuat din maupun pegawainya dijajah target.

Tidur siang, kumpul keluarga, mengendapkan diri, bermeditasi, bergaul dengan lingkungan adalah hal-hal yang sesungguhnya penting untuk menyeimbangkan hidup tetapi justru sering kita abaikan karena kita anggap tidak penting, bukan prioritas. Cara-cara yang kita anggap buang-buang waktu itu, sesungguhnya merupakan upaya untuk mengumpulkan amunisi kembali untuk bisa menghadapi tantangan hidup.

Tidak heran kalau hidup kita penuh dengan stres. Wajar juga kalau hasil riset para dokter ahli jiwa menunjukkan bahwa mayoritas kita, orang Indonesia, mengalami depresi. Kita telah mengejar hal-hal yang sesungguhnya tidak penting dan tidak membuat kita bahagia.

Mau rileks saja kok sulit. Mau istirahat pun merasa bersalah karena seolah-olah telah menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Banyak di antara kita yang salah meletakkan prioritas hidup, sehingga melepaskan diri dari stress menjadi sedemikian sulitnya.

Di Jepang sudah mulai ada perusahaan-perusahaan yang menerapkan waktu tidur siang. Percobaan mereka membuktikan bahwa memberi kesempatan karyawan tidur siang ternyata justru meningkatkan produktivitas. Riset lain juga membuktikan bahwa tidur siang membuat pan jang umur.

Di Solo dan Yogya masih banyak toko yang tutup setelah pukul 14.00 dan buka lagi pukul 17.00 untuk bisa menikmati sies ta, saatnya tidur slang dan minum teh sore bersama keluar ga sebelum mulai bekenja kern bali. Mungkin karena itu di antara penduduk Indonesia, warga di Jawa Tengah dan DIY usianya lebih panjang.

Kalau orang Jakarta selama mi kenalnya BBS alias bobo bobo siang….

“Widya Saraswati”

Comments on: "Mo rileks saja kok SUSAH" (3)

  1. hu hu…..iya iya mas…bener2. ada dua hal yang aku garis bawahi >>>
    1> Mau rileks saja kok sulit. Mau istirahat pun merasa bersalah karena seolah-olah telah menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga
    2> Di Jepang sudah mulai ada perusahaan-perusahaan yang menerapkan waktu tidur siang. Percobaan mereka membuktikan bahwa memberi kesempatan karyawan tidur siang ternyata justru meningkatkan produktivitas. Riset lain juga membuktikan bahwa tidur siang membuat pan jang umur.

  2. difacookies said:

    Kalo BBSnya di hotel 6 jam-an termasuk program di Jepang gak bu? huehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: