“Jangan memandang kecilnya suatu kemaksiatan, tapi lihatlah kepada kebesaran zat yang engkau lakukan kemaksiatan terhadap-Nya.”

Mengapa Sulit Jujur???

Diambil dari Tabloid (GHS) Gaya Hidup Sehat….

untuk seseorang yang ada di Surabaya….tetep semangat ya. 

Dalam hubungan percintaan, baik pacaran maupun perkawinan, keterbukaan merupakan salah satu syarat agar pasangan dapat benar benar memiliki hubungan istimewa yang membahagiakan. Nyatanya banyak pasangan yang tidak berhasil mencapai komunikasi yang terbuka. Tentu saja hal mi berarti mereka tidak benar-benar mencapai kualitas hubungan yang semestinya dicapai.
Salah satu bentuk ketertutupan yang senang dianggap sebagai kebenaran adalah ketertutupan dalam hal keuangan. Mengapa? Karena hal ini sering dianggap sebagai privasi (privacy) oleh mereka yang merasa perlu melindungi hak-haknya sendiri.
Namun, bukan hanya soal keuangan, sebagian orang lainnya juga menutup diri dalam kelemahan kelemahan pribadi, yang bila diungkapkan dianggap dapat mengurangi harga diri. Kebutuhan untuk melindungi harga diri kadang-kadang juga dikemas dalam penghayatan sebagal privasi.
Sebagian orang lainnya menyembunyikan suatu fakta kepada pasangannya untuk menghindari sikap negatif (marah, cemburu) atau kemungkinan penolakan dan pasangan. Hal ini banyak terjadi, terutama dalam kasus-kasus perselingkuhan atau tindakan tindakan amoral. Sebagian lainnya karena kurang percaya atau memiliki
prasangka tertentu terhadap pasangannya.
Apa pun alasannya, kebutuhan untuk menutupi fakta seringkali tidak cukup dilakukan hanya dengan tidak mengungkapkan fakta tertentu, melainkan juga dengan ungkapan ungkapan yang tidak jujur.
Menciptakan Jarak
Selain menciptakan jarak, ketidakjujuran juga sangat berpotensi melukai hati pasangan. Tentu saja akibatnya dapat membahayakan hubungan, bila ketidakjujuran itu menyangkut hal-hal prinsip dalam hubungan.
Begitu banyak kasus ketidakjujuran kepada pasangan dengan berbagai kemungkinan penyebab yang sangat individual. Bila hal ini terjadi dalam relasi kita dengan pasangan, jangan sampai membuat kita menjadi sibuk menunjuk kesalahan pihak lain.
Yang diperlukan adalah usaha untuk menyadari berbagai kemungkinan penyebabnya. Langkah selanjutnya adalah menindaklanjuti dengan berusaha mengatasi penyebabnya, sampai berkembang kemauan atau keberanian untuk saling terbuka. Berikut ini adalah beberapa kemungkinan penyebab ketidakjujuran dalam relasi perkawinan.

1. Privasi
Privasi dapat diartikan sebagai kebebasan dan pengamatan/ pengawasan dan gangguan atau campur tangan yang tidak diinginkan atas kehidupan pribadi. Tentu saja ini merupakan hal yang penting dalam kehidupan sehati-hari kita bersama orang lain. Privasi yang bagaimana yang kita perlukan? Berbeda-beda tergantung siapa orang lain yang ada di sekitar kita. Privasi mencerminkan adanya batas antara kita dengan orang lain. Bila hubungan semakin erat, kebutuhan akan privasi semakin menipis (berkurang). Sementara hubungan dengan pasangan semestinya merupakan hubungan yang paling erat dibanding hubungan-hubungan lainnya.
Dalam perkawinan, semestinya pasangan dapat mencapai persatuan pribadi secara total, tanpa meniadakan ciri khas pribadi masing-masing. Seluruh pengalaman pribadi seharusnya menjadi bagian di dalam relasi kita dengan pasangan, yang sekaligus semestinya juga merupakan sahabat kita. Penerapan privasi dalam suatu hubungan cinta berarti menciptakan keretakan keakraban. Hal ini menunjukkan adanya suatu rasa kurang percaya dan hormat, dan sering berkaitan dengan perilaku yang tidak memiliki pengaruh positif terhadap hubungan dengan pasangan.
Bila kita menerapkan privasi terhadap pasangan, secara implisit kita telah mengatakan, “Apa yang hendak aku lakukan, atau siapa yang hendak kutemui, atau siapa yang kuperlakukan istimewa, atau apa yang hendak kupercaya atau bagaimana aku akan menggunakan uangku, itulah yang lebih penting bagiku daripada hubunganku dengan pasanganku.”
Mungkin saja kita juga membuat alasan: “Kalau saja Ia tidak seperti itu, pasti aku tidak merasa pertu menuntut privasi ” Bagaimanapun, sebuah hubungan yang didirikan di atas ketidakjujuran cenderung menjadi tempat berkembangbiaknya ketidakjujuran lain dan masalah yang semakin parah.

2. Konsep Diri Negatif
Idealnya, setelah memasuki kehidupan dewasa, kita dapat semakin berproses menjadi pribadi yang matang dengan membina kehidupan bersama pasangan. Artinya, kita semakin dapat menerima diri sendiri dan pasangan sebagaimana adanya, semakin mampu melepaskan diri dari egosentrisme, semakin mampu mengembangkan kapasitas pribadi, hidup dalam harmoni, serta mencapai kepenuhan pribadi dalam hidup perkawinan.
Salah satu hal yang dapat menghambat kita berkembang seperti itu adalah ketika kita memiliki konsep diri yang negatif. Dalam keadaan kurang mampu menerima diri sendiri sebagaimana adanya, merasa diri tidak berharga, seseorang sulit juga untuk dapat menerima pasangan apa adanya. Mengapa? Karena persepsi kita terhadap pasangan dapat terdistorsi oleh gambaran diri sendiri yang negatif.
Bila kita merasa kurang cukup berarti, apa saja yang dilakukan oleh pasangan dapat kita persepsikan sebagai kekecewaan, kemarahan, kurang sayang, dan sebagainya. Selanjutnya untuk menghindarkan diri dan bayangan respon negatif dani pasangan, kita cenderung menutupi siapa saja yang kita anggap dapat mengecewakan pasangan. Kita cenderung menutupi segala sesuatu yang kita anggap dapat semakin merusak harga diri kita. Dapat dibayangkan bagaimana akibat selanjutnya dalam hubungan yang diwarnai oleh ketidakpencayaan diri seperti itu.
ltulah sebabnya, kemampuan untuk mengenali dan menghargai hal-hal positif di dalam diri sendiri menjadi sangat penting, sama pentingnya dengan kemampuan untuk menerima kekurangan yang ada dalam din sendiri.
Kejernihan dalam menilai diri sendiri maupun onang lain, serta tidak menghakimi diri sendiri dan orang lain, merupakan modalitas yang sangat penting supaya kita dapat selalu terbuka dan mencapai perkembangan hubungan yang sehat dengan pasangan.

3. Rasa takut
Berhadapan dengan orang yang sangat keras, otoriter, dan tidak toleran, dapat membuat seseorang cenderung menghindari reaksi negatif seperti itu. Itulah sebabnya, bila dalam perkawinan salah satu pihak sikapnya cenderung keras, otoniter, apapun alasannya pasangan, kita menghindari munculnya kekerasan dan penolakan, dengan menyembunyikan segala kenyataan yang dapat memicunya.
Di sisi lain, .meskipun pasangan kita bukan orang otoriter, melakukan suatu hal yang salah yang mungkin dapat mengecewakan atau melukai perasaan pasangan, kita juga cenderung menyembunyikan apa yang kita lakukan tersebut agar tidak diketahui pasangan.
Nah, apa pun penyebabnya, situasi penolakan oleh pihak lain dapat mendorong seseorang untuk bersikap tidak jujur. Oleh sebab itu, setalu dipertukan kesabaran dan rasa penghargaan kepada pasangan.
Sikap kompromi, sikap yang tidak bermusuhan, memberikan kesempatan pada pasangan untuk membeni penjelasan, serta suara yang rendah (bukan berteriak-teriak, marah-marah), akan membantu terciptanya komunikasi yang lebih jujur.

4. Kebiasaan
Mereka yang dibesarkan datam Iingkungan keluarga yang senang menggunakan kebohongan dalam interaksi dengan orang lain, akan cenderung mengembangkan kebiasaan berbohong juga. Bila telah menjadi kebiasaan, hal ini cukup sulit untuk dihilangkan. Dalam relasi dengan pasangan, kebiasaan berbohong juga cenderung tetap melekat.
Bila hal ini yang terjadi, dipentukan kesabaran dan dukungan dari pihak pasangan agar kebiasaan berbohong tersebut dapat ditiadakan. Bila perlu hal ini dilakukan dengan bantuan psikolog.
Bila Anda atau pasangan Anda ternyata sulit bersikap jujur, mudah-mudahan sekarang sudah menemukan apa yang menjadi penyebabnya, sehingga dapat lebih mudah pula mengatasinya.

Meskipun tahu ketidakjujuran merupakan sikap dan perilaku yang negatit nyatanya banyak orang sulit menerapkannya, bahkan dalam hubungan cinta.Apa sebabnya? Adakah pengaruh keluarga atau karena pasangan otoriter?

Comments on: "Mengapa Sulit Jujur???" (4)

  1. wahhhhh bener banged tuh mas….mo tya fwd-in ke masnya tya….semoga bermanfaat jg bwt diaaaa ..tengkyu udah sharing…..^_^

  2. manusia sulit untuk jujur di karnakan di dalam diri manusia itu masih menyimpan sifat-sifat setan,hati nya tertutupi dgn segala nafsu duniawi.Dan minim nya pendalaman tentang agama..aQidah..

  3. Kejujuran adalah kebenaran. Dulu aku sukar untuk berkata benar bukan maksudnya aku menipu tetapi aku berdiam diri untuk menyatakan kebenaran tapi mutakhir ini aku akan menyatakannya. Sebenarnaya ini adalah juga azam kerana sesekali terkelu lidahku untuk berkata dan mengambil masa cuma bila itu berlaku aku rasa masanya belum sesuai jadi aku hanya menanti masa yang sesuai untuk menyatakannya. Ini berlaku kerana sesuatu dugaan dari Allah mengubahku dan sebenarnya betullah firman Allah bahawa bersabarlah dengan bersabar aku akan tolong orang2 yang bersabar.

  4. tidak alasan apa pun yang membenarkan suatu kebohongan. harus adanya ketegasan jangan setengah-setengah dalam menghukumi suatu kesalahan. tidak ada bohong putih. tidak ada bohong demi kebaikan. harus jujur. supaya terhindar dari bohong jangan pernah mencoba hidup dengan semaunya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: